Resmi menyandang nama Sapta Juang Sangaji tepat pada 19 Desember 1993. Memang buat sedikit tersesat; melanglang dan terajahkan arti dari satu numerik dalam bahasa daerah. Sapta. Tujuh. Dipercayai sebagai angka penuh keberuntungan. Kelak katanya, harap-harap saya menjadi seseorang yang dapat berjalan dipenuhi kembang mekar dan sukses menuai sukses atas asa yang ditanam.

Saya tumbuh dan besar bukanlah sebagai pangeran yang tinggal di istana. Hanya manusia kecil yang berpayung atap merah di sudut Ibukota dengan perabot tembaga seadanya. Hidup dalam ekspektasi keluarga begitu mengerikan bak bayangan senantiasa siap jatuhkan ke dalam lubang tak berdasar. Dipaksa sempurna dan menjadi sosok panutan bagi Sekar, adik perempuan saya. Dituntut membawa ‘keberuntungan’ kepada keluarga yang nyatanya hanya untuk memuaskan arogansi semata. Disekap bak burung dalam sangkar agar terpoles indah menjadi kebanggaan. Menjadikan awan kelabu itu berhasil menutupi celah sang jingga keemasan, singkirkan kehangatan sukses menuntun aku telak jatuh dalam kubangan.

Mungkin Tuhan masih ingin suguhkan kasihnya kepada saya. Hadir matahari yang menyingkap tabir kelabu berwujud seorang perempuan, Lanika Arum Sukma, namanya. Laiknya angin sejuk yang berhembus di musim panas. Bak pola yang belum juga rampung miliki pola dan menyengat medan magnet agar saya terus berada dalam radar nyamannya. Ialah pusat kehidupan saya, pilar paling utama penopang agar saya tetap menjadi manusia. Memang terdengar berlebihan, memang faktanya bahwa ialah awak kapal terpercaya kendati saya sebagai nahkoda sulit mengatur arah lajunya bahtera.

Ada satu tahun dimana awan kelabu itu berhasil menutupi celah sang jingga keemasan. Titik hancurnya dunia, hingga saya hampir terenggut akal sehatnya. Lanika dan satu malaikat kecil saya, Sahara, berakhir di bawah pusara ditemani dengan sirine moda beroda begitu pekak dan diiringi rinai hujan bak mereka pun turut berduka atas kepergian keduanya. Pun, harus tau bahwa kebodohan saya turut andil dalam peristiwa ini. Amarah yang membengkar sebab tuntutan orang tua saya untuk turuti keinginannya disertai ancaman membuat saya di hari itu dengan beraninya gagalkan janji temu khusus keluarga kecil saya. Berakhir saya enggan menerima kenyataan, lolongkan satu nama tidak terhenti dan sapaan yang berbalik ketika digaungkan.

Menyesal? Tentu saja. Dihantui perasaan bersalah hingga menjadikan saya sebagai mayat hidup tanpa arah. Dipenuhi bisikan-bisikan halus bahwasanya saya berhak ikuti jejak dua wanita kesayangan saya kendati selalu berhasil tertahan sebab peran pendukung di sekitar yang nyatanya masih peduli.

Bisakah… bisakah… apakah saya masih layak untuk hidup bahagia?