<aside> 📢
Tulisan ini mengandung konten sensitif berkaitan dengan kecelakaan secara implisit dan perilaku manipulatif.
</aside>
Di balik tabir ahmar nan terbentang melintang, perjamuan klasik antara tiga kepala manusia tergelar berpayung temaram yang enggan berpulang. Tiga lilin berdiri tegak; melepuh perlahan nian terkikis dilahap si jago merah dan jadi satu-satunya yang terang benderang. Nol aksara mendengung di megahnya ruang kokoh itu. Hanya obstruen bersumber dari alat logam beradu dengan keramik pipih yang berdenting menjelma saksi atas sekuens awal opera sabun yang hendak berlangsung.
Dan pikiran saya terbang melanglang; mengingat rengekan malaikat kecil saya sembari bersungut sebal sebab janji yang sudah diagendakan jauh-jauh hari mesti menyimpang dari niat awal. Berhasil menggugurkan senyum jelita milik Sahara hanya karena pinta orang tua untuk bertandang barang sejenak ke kediaman mereka dengan dalih ancaman yang mungkin meletakkan anak dan istri saya dalam bahaya. Lantas, saya harus apa selain melunturkan ego dan pasang topeng di muka?
“Maaf, ya, Cantiknya Papa. Ara sama Mama pergi duluan ya ke tempatnya?”
“Nggak mau! Maunya sama Papa! Udah janji lihat lampu pion betiga!”
“Iya, sayang. Bertiga. Papa, Mama, sama Ara nanti lihat lampion. Papa ke tempat nenek dulu sebentar, nanti Papa susulin, oke?”
“Janji, ya? Kalau bohong, Papa nanti nggak boleh bobo bareng Ara sama Mama!”
“Iya, iya. Nanti fotoin ke Papa kalau udah di tempat, ya? Biar Papa gampang carinya.”
Begitulah interlokusi yang tercipta siang hari itu dengan Lanika dan Sahara menuju tempat terlaksananya pekan rakyat yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Sedangkan, disinilah saya bertolak menuju ke dalam tirai yang jelas-jelas agihkan bukan malam yang hangat.
Sejatinya, saya sungguh muak dengan hidangan yang tersaji rapi memenuhi meja dari ujung ke ujung. Terlihat menggiurkan, nyatanya penghidu serta akal meradar awas bahwasanya rekaan ini ialah akal bulus tengik lawan di seberang sana. Terlebih orang tua saya hanya lontarkan kalimat-kalimat konyol yang mengundang geram; melebur jadi api amarah yang melalak.
“Aku sudah punya keluarga sendiri, Ma. Kenapa kalian masih harus bikin keterikatan konyol macam ini, sih?”
“Ini buat kebahagiaan kamu sendiri, Sapta. Kamu dan Lanika itu tidak seharusnya menikah!”
“Tapi aku sama Lanika bahagia, Ma! Aku udah punya Sahara juga!”