Bisakah Kalena Noah Himalaja kembali? Sesak bertumpuk sebab ia terperosok jauh ke dalam palung berpagar arogansi milik iblis yang katanya inilah aksi memanusiakan manusia! Rindu akan rasa tawa yang bebas mengudara, senyumnya yang menggantung tanpa paksa, kalimat apresiasi yang mengguyur tanpa pinta.
Detik bergulir menit merangkum jam hingga terhimpun sebagai tahun, gumpalan sesak yang membengkar itu tidak tertahankan. Membentuk lahirkan lelehan air mata yang menganak sungai bersamaan dengan awan kelabu.
Walaupun tidak disangka, hadir matahari kecil berwujud seorang anak laki-laki yang hadir menyingkap tabir kelabu. Dariel Sakha Candranegara, namanya, dengan Ayel adalah panggilan sayangku untuknya. Eksistensi Dariel bak hembusan angin musim panas ketika musim dingin berlangsung. Hanya dirinya seorang yang menerima identitasku sebagai Kalena. Membawa secercah asa, menjulurkan tangan agar aku tetap hidup bebas dari jeratan kesedihan dan tubuh yang terpaksa dipoles menjadi orang lain. Ucap kalimatnya yang berbisik tenang bahwa aku tidak perlu takut lepaskan topeng untuk bebas berinteraksi sebagai Kalena selalu menjadi alasanku untuk hidup. Tanpa sadar hadirnya Dariel adalah penawar sesak rindu dan eksistensinya jadi candu.
Namun, aku tidak mengerti. Hari itu, Dariel tiba-tiba menghilang. Seluruh pesan dan panggilan terabaikan. Bahkan, tempat tinggal yang biasa aku singgahi terlihat kosong melompong. Tatkala kalimat tanya aku tujukan pada satu tetangganya, ia pun dikelilingi oleh ketidaktahuan. Jelas, perasaan hampa itu tergelar luas. Matahariku hilang di balik awan dan perasaan sesak itu kembali hadir. Untuk kali ini, rasa sesak itu tidak hanya dipantik oleh rindu terhadap bebasnya diri Kalena saja. Kembali bertumpuk bersama rasa rindu atas kehadiran Dariel.
Sekarang, aku harus apa? Kembali menjadi mayat hidup dan membiarkan diri digerogoti oleh egoisme mereka yang membumbung tinggi?