Lembar ini dikhususkan untuk saya, selaku dalang, pemegang kendali utama atas hidup dan matinya seorang Sapta Juang Sangaji, lelaki yang tengah mengaum berang sebab terbilang separuh kewarasannya hampir hilang. Deru nafas Sapta dapat kamu temui dalam balutan kata yang akan kutoreh. Pun, eksistensi sang anak Adam ini ialah murni hasil denyar dari sudut pikir saya sendiri tanpa ada niatan untuk meniru. Apabila kamu temukan celah kesamaan, jauh dari lubuk hati saya menurut kata maaf sebab hal itu tidaklah disengaja.
Kemudian, hendak saya singgung sekaligus saya tegaskan bahwa Sapta Juang Sangaji hanyalah karangan imajiner yang entitasnya tidak nyata. Saya izin menyanggam rupa Young K atau Kang Younghyun dari grup band DAY6 asal Korea Selatan hanya untuk visualisasi semata. Tidak ada hubungan secara personal dengan idola beserta naungannya.
Poin lainnya, kebanyakan cerita yang akan dituangkan mungkin dapat memuat konten sensitif berupa perilaku abusif, berkaitan dengan kematian, dan hal lainnya yang tentu saja jika konten tersebut terkandung didalamnya, janganlah khawatir sebab peringatan atas ragam tersebut akan selalu saya cantumkan.
Di pengujung tutur saya, terima kasih terucap karena sudah menilik hingga tandas cuap-cuap ini. Kuharap rasa nyaman selalu menyertai dan selamat menaiki bahtera kisah milik Sapta Juang Sangaji.
Datang satu berita! Berita angin dari Pusara Tak Bernama. Bahwasanya desir angin berbisik seonggok manusia akan hadir bersimbur noktah merah maupun hitam. Lahir dari sulur-sulur pohon mati, tumbuh di tengah gundukan tanah kering bersama burung pematuk untuk lumpuhkan sunyi. Sebandung ainnya sehitam jelaga, sudut matanya begitu tajam bak mata pisau, menilik sayu merajahkan penyesalan yang begitu dalam. Rasa sayang yang seharusnya tercurah, menjadi rintik air sesal tiada habisnya. Kendati, setidaknya sang anak Adam mengakui kesalahannya. Ya, setidaknya mengapresiasi atas keberanian untuk berlapang dada atas kebodohan yang telah ia petik.